Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Pidato yang Seperti Sebuah Wasiat

Keluhan Demi Keluhan
          Mengeluh adalah satu pekerjaan yang sama sekali tidak ada baiknya. Meski kadangkala mengeluh itu dapat dimaklumi jika yang mengeluh adalah seorang yang dirundung sekian banyak masalah dan ia tidak memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Hal itu ibaratnya seperti orang sering berkata tentang sombong, "miskin aja sombong, kaya mending". Dalam pidato seorang ketua dewan pembina, yang kebetulan dia adalah seorang presiden di negeri ini tak lebih yang dapat ditangkap dari pembicaraannya kecuali sekian banyak keluhan. ada keluhan betapa sulitnya dia memimpin bangsa ini ketika dikeroyok mereka yang disebutnya koalisi, dan ada pula keluhan tentag dia yang akan dijatuhkan orang ditengah jalan, baik dalam arti sesungguhnya dicegat, atau dalam arti makna berupa impeach, penggulingan kekuasaan.

Liberal dan Tragis
         Dalam pidato tadi malam itu juga, sempat SBY mengucapkan kata Market Reaction atau reaksi pasar, menyimak kalimat itu saja, tampak sekali apa maksudnya, jika di Indonesia tidak dinaikkan harga BBM itu, pasar dunia akan bereaksi buruk bagi dan terhadap Indonesia. Inilah yang disebut Liberal, tidak berdikari dalam bidang ekonomi. Jika semua akan diikuti saja apa maunya pasar, lebih baik bukan sesiapa-siapa yang menentukan kebijakan yang demikian pentingnya itu, itulah kelirunya beliau sebagai pemimpin menurut saya. ekonomi liberal inilah yang kami sebagai rakyat Indonesia tidak inginkan. Kami, terlepas dari Soekarno yang tenggelam dalam ambisinya memimpin dunia, tetap prinsip berdikarinya itu, berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan itu adalah suatu prinsip yang benar dan seharusnya diikuti dengan seksama.
          Prinsip atau jalan pemikiran yang benar ini ketika tidak mampu diterjemahkan oleh seorang yang benar-benar dipilih oleh rakyat negri ini tidak mampu menterjemahkannya dengan tepat, dan malah membujuk rakyat dengan sogokan konstitusional berupa BLSM itu, betapa tidak tragisnya bangsa ini?. atas dasar itulah, jika memang sayang Bapak kepada kami, jangan salahkan kami menuntut sayang bapak kepada kami dengan cara kami sendiri, berbondong-bondong ke jalanan dan berteriak agar bapak mengerti, maaf saja jika hilang malu dan mulia bapak karenanya. Satu tragis yang lain lagi dalam pidato itu, beliau begitu marahnya terhadap kawan-kawan koalisnya namun itu dilampiaskan ketika dia memberikan pendidikan kepada kader-kadernya. ditambah lagi tragis dalam pidato itu, bapak ini menanyakan keberhasilannya kepada orang yang sudah dia tahu apa jawabnya, miris.

Bapak Sampai "Mengurut Dada"

Seperti Sebuah Wasiat
        mencermati hampir secara keselurahan pidato malam tadi itu, layaknya seperti sebuah wasiat begitulah isi dari pidat itu. seakan sadar beliau tidak akan selesai dia menjadi orang nomor satu di negeri ini hingga 2014. disuruhnya anggotanya untuk berani dan berbuat baik, seakan kalau dia berbuat baik sudah tak bisa lagi. dan ditengah pembicaraan ketika itu berupa dialog dia menanyakan akan berhenti ketika itu juga, disitu semakin jelas kalau pidato itu layaknya wasiat. tapi apapun yang saya berkicau tidak jelas ini, orang hebatnya adalah anas. selamat bung, semakin kau kacaukan saja negeri ini. he,. /-:

liat aja sini S B Y - M Z W 

re-post ; DENNY DiMANA ??

YIM - KISAH ANTASARI TENTANG DENNY INDRAYANA
          Ada kisah menarik tentang Denny Indrayana yang suatu ketika diceritakan Antasari Azhar kepada saya. Baru saja sebulan menjadi Ketua KPK, Antasari datang ke Yogya. TVRI Yogya mengadakan talkshow dan beberapa penelpon memuji tekad Antasari memberantas korupsi. Namun, Denny Indrayana yang tampil dalam dialog, dengan wajah dingin, mengatakan tidak. “Meskipun banyak orang memberi apresiasi, saya tidak” kata Denny. “Anda baru hebat sebagai Ketua  KPK kalau anda berani mengungkap korupsi di istana”
 sergahnya. Antasari hanya tersenyum. Dikatakannya, di manapun ada korupsi akan ditindaknya, tidak perduli di istana, asalkan ada buktinya. Dennya memandang Antasari dengan sinis.
          Dua bulan kemudian, kata Antasari, dalam sebuah acara di Istana Negara Jakarta, tiba-tiba dia melihat Denny ada di sana. Berbeda dengan penampilannya di Yogya, Denny nampak gagah memakai baju khas staf istana dan sebuah lencana di krah bajunya. Seseorang membisiki Antasari memberitahunya kalau Denny sudah diangkat menjadi staf khusus Presiden SBY.
       Antasaripun menghampiri Denny dan menepuk bahunya. “Bung, anda kini sudah di istana. Mudah-mudahan anda akan mengungkap kalau-kalau ada korupsi di sini” katanya kepada Denny sambil tertawa. Denny memang punya teori ketika menjadi aktivis anti korupsi di UGM. Korupsi di Indonesia, katanya, adalah kongkalikong antara tiga pihak: istana, pemegang senjata dan pengusaha naga.
       Setelah berada di lingkaran istana, dan kini Wamenkumham, belum terdengar kiprah Denny membongkar korupsi antara tiga unsur kongkalikong itu. Dia malah sibuk dengan polemik kontroversial seputar pemberantasan korupsi, namun tak pernah sedikitpun terdengar menyinggung istana, pemegang senjata dan pengusaha naga yang katanya saling kongkalikong itu…

"Hantu Belau" Masuk Sidang

Sidang di Pengadilan itu tujuannya adalah demi menegakkan hukum, utamanya Hukum Materil, meskipun jelas itu sulit sekali. Karenanya, pernah muncul satu pandangan yang mengatakan, Hukum pidana itu adalah hukum yang buruk. Oleh karena betapa sulitnya membuktikan kebenaran materilnya itu, maka sering dikatakan hukum pidana itu adalah untuk membuktikan kebenaran formilnya suatu perkara.

Hari ini, Rabu, 15Februari2012, disidangkan kasus wisma atlet dengan terdakwa Nazaruddin yang merupakan seorang mantan anggota DPR dan mantan bendahara umum partai demokrat. Agenda sidangnya adalah mendengarkan keterangan saksi, dengan begitu, dihadirkanlah beberapa saksi karena satu saksi itu sama dengan tidak ada saksi. Beberapa orang saksi yang dihadirkan itu antaranya adalah Angelina Sondakh dan Wayan Koster, keduanya adalah Politisi Senayan dari partai berbeda, Demokrat dan PDI perjuangan.

Ada beberapa peristiwa menarik dalam persidangan itu, khususnya tatkala saksi yang diketengahan dalam persidangan adalah Angelina Sondakh. Pengacara terdakwa, Hotman Paris Hutapea (HPH) mencecar saksi dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan itu adalah seputar keaslian BlackBerry (BB) milik saksi. HPH sempat mengeluarkan perkataan yang menurut saya perkataan itu tidak pantas untuk terucap di sebuah persidangan. Hantu Belau, kata ini dalam pandangan saya mengikuti cara pengucapan oleh pengacara dapat dikatakan sebuah penghinaan terhadap persidangan karena melecehkan harga diri saksi.

Kedua, yang juga tak pantas yang diucapkan pengacara itu dalam menanyai saksi adalah dengan memberikan ancaman bahwa saksi akan digugat, sekali persoalannya adalah cara pengucapannya yang penuh emosi. Boleh saja saksi diingatkan bahwa bila yang bersangkutan memberikan kesaksian palsu dapat digugat, tapi tidak dengan ekspressi yang mengancam dan merendahkan seperti itu. Kemudian, saksi yang berucap dengan ucapan yang tidak terlalu baik/jelas terkesan menutupi sesuatu itu kemudian diakumulasi dengan hilangnya wibawa majelis hakim karena perbuatan pengacar tersebut, rusaklah persidangan itu secara keseluruhan. Kebenaran harus diwujudkan, hendaknya dengan cara yang benar pula.

Dari persidangan yang rusak ini, jangankan kebenaran materil kiranya dapat terungkap, kebenaran formil saja sulit rasanya akan didapat. Persidangan lainpun di negeri ini tampaknya kurang lebih sama, hakim kehilangan wibawa, pengacara merendahkan kemuliaan persidangan, saksi tidak menyampaikan kebenaran. Jika tidak ada lagi kebenaran, jayalah kesesatan, terbenamlah kita dalam kehancuran. Dari segenap sidang yang bobrok itu, akhirnya yang dapat dilakukan hanyalah berharap kepada tuhan, semoga tuhan membuka nurani mereka. Kata om ebiet, hanya kepada –NYA kita kembali.

-Beberapa status FB-ku tentang sidang ini-
sidang wisma atlet, pertanyaan yang disampaikan pengacara sangat menekan, itu tidak boleh !!!

sidang wisma atlet, saksi menjawab dengan cara-cara yg tidak lazimnya, itu tidak boleh !!!

sidang wisma atlet, hakim terkesan canggung menghadapi tim pengacara terdakwa, itu tidak pantas !!!

sidang wisma atlet. pengacara terdakwa, pengacara saksi, saksi, terdakwa, hakim semuanya berlaku tidak jelas, jadilah sidang ini sidang-sidangan. sidang ini dengan cara-cara yang demikian, sulit diharapkan terbukti kebenaran formilnya, artinya semakin jauhlah kebenaran materilnya. !!!

sidang wisma atlet, jangankan kebenaran materil yang akan terkuak, kebenaran formilpun masih jauh akan terbuka dengan terang benderang, dengan begitu, habislah uangh negara untuk sidang yang semunya luar biasa ini. maka hadiah negara bagi rakyatnya sekali lagi adalah kekecewaan dan kenestapaan !!!

-Beberapa Foto hasil Googling-
Angie dan BB - 1
Angie dan BB - 2
Angie sedang memberikan kesaksian
HPH yang beradab, haaa ???
Nazar menanti diborgol ??
Nazar sedang disidang
Bacaan - 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, dll.

DPR adalah seburuk buruk tempat ???

Entah darimana datangnya pikiran saya yang begini saya pun tak tahu. yang jelas tadi ketika saya terbangun dari tidur, lalu saya beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu, dan kemudian bergerak kembali ke kamar, tiba-tiba saja teringat begini, 'sebaik-baik tempat adalah mesjid, dan seburuk tempat adalah DPR".

Agar tuduhan saya terhadap DPR itu tidaklah karena dilandasi rasa kebencian, saya berusaha merasionalisasikannya. ada sebuah hadits yang jamak dikenal dalam masyarakat luas,  Kesaksian Abu Hurairah radhiyalahu 'anhu : Muslim berkata - dan telah menceritakan kepada kami Harun ibnu Ma'ruf dan Ishaq ibnu Musa Al-Anshariy, mereka berdua berkata, menceritakan kepada kami Anas ibnu 'Iyaadh, menceritakan kepadaku Ibnu Abi Dzubaab - di riwayat Harun (ibnu Ma'ruf) sedangkan dalam hadits (Ishaq ibnu Musa) Al-Anshariy - menceritakan kepadaku Al-Harits, dari 'Abdir-rahman ibnu Mihran Maula Abi Hurairah, dari Abi Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Tempat yang paling dicintai oleh Allah di negeri-negeri adalah Masjid-masjid, dan tempat yang paling dibenci oleh Allah di negeri-negeri adalah pasar-pasarnya."
HR. Muslim, Shahih no.665; Ibnu Hibban, Shahih no.1600 (4/477)

=========================================
DPR ADALAH SEBURUK-BURUK TEMPAT
=========================================
Kesaksian Anas ibnu Malik radhiyallahu 'anhu - Ath-Thabrani berkata - menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Nuh, menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Khalid ibnu Khidaasy, menceritakan kepada kami 'Ubaid ibnu Waaqid Al-Qurasyi, dari 'Ammar ibnu 'Umarah Al-Uzdiy, menceritakan kepadaku Muhammad ibnu 'Abdillah, dari Anas ibnu Malik, katanya,
Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Jibril, "Dimanakah sebaik-baik tempat?" Jibril berkata, "Aku tidak tahu." Beliau bersabda, "Tanyakanlah kepada Rabbmu?" Lalu Jibril shallallahu 'alaihi wa sallam menangis, kemudian berkata, "Wahai Muhammad, begitu pula kami,  kami bertanya pada-Nya, Dia-lah yang mengabarkan kepada kami tentang apa yang Dia kehendaki." Maka naiklah Jibril ke langit, kemudian kembali mendatangi beliau dan berkata, "Sebaik-baik tempat adalah masjid-masjid (yakni) rumah-rumah Allah di muka bumi. Beliau bertanya kembali, "Lalu tempat apakah yang buruk?" Maka Jibril naik ke langit kemudian kembali mendatangi beliau dan berkata, "Seburuk-buruk tempat adalah pasar-pasar."
HR. Ath-Thabrani, Al-Mu'jam Al-Kabir no.7140 (7/154-155).
 
Kesaksian Jubair ibnu Muth'im radhiyallahu 'anhu - Al-Bazzar berkata - Mengabarkan kepada kami Muhammad ibnul-Mutsanna Abu Musa, katanya, telah mengabarkan kepada kami Abu 'Amir, katanya, mengabarkan kepada kami Zuhair, dari 'Abdullah ibnu Muhammad ibnu 'Aqiil, dari Muhammad ibnu Jubair ibnu Muth'im, dari ayahnya radhiyallahu 'anhu,
Bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Bagian manakah di dua negeri ini yang paling dicintai Allah dan [bagian manakah] di antara dua negeri yang paling dibenci oleh Allah?" Beliau menjawab, "Aku tidak tahu sampai aku bertanya kepada Jibril shallallahu 'alaihi wa sallam." Maka datanglah Jibril dan mengabarkan kepada beliau, "Bahwa tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjid dan yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar-pasar."
HR. Al-Bazzar, Musnad no.3430 (8/352-353).
 
Meriwayatkan juga :
Al-Hakim, Al-Mustadrak no.304 (1/167). Lalu beliau mencantumkan hadits Ibnu 'Umar sebagai pendukung.
Kesaksian Waatsilah radhiyallahu 'anhu - Ath-Thabrani berkata - menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Hammad, menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu 'Abdir-rahman, menceritakan kepada kami Bisyr ibnu 'Aun, menceritakan kepada kami Bakkaar ibnu Tamiim, dari Mak-hul, dari Waatsilah, katanya, Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
"Seburuk-buruk majelis (tempat duduk-duduk) adalah pasar-pasar dan jalan-jalan sempit, dan sebaik-baik majelis adalah masjid-masjid. Maka apabila engkau tidak duduk-duduk di masjid maka hendaklah engkau diam di rumahmu."
HR. Ath-Thabrani, Al-Mu'jam Al-Kabir no.142 dan 143 (22/60).
 
---------------------
KESIMPULANNYA
Bahwa hadits sebaik-baik tempat adalah masjid-masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar-pasar" adalah SHAH dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
---------------------

itulah beberapa hadits yang menjelaskan bahwa seburuk buruk tempat di muka bumi itu adalah pasar. sementara dilain ihak, kebutuhan kita terhadap pasar ini adalah begitu besar. karena itu, bagaimana merubah pasar itu agar tidak menadi tempat yang teburuk adalah dengan melakukan kebaikan-kebaikan yang menurut orang kebanyakan mustahil dapat dilakukan disana. saah satu yang ada diantara hal mustahil itu bernama kejujuran dan keadilan.

lalu, dari pengamatan yang panjang dan kencangya arus informasi yang berlari, seringkali disebut di DPR terjadi transaksi-transaksi haram. baik transaksi kursi (keanggotaan) DPR itu sendiri ataupun transaksi tentang produk-produk yang akan dihasilkan DPR. maka selama segala macam transaksi-transaksi semacam itu dipelihara DPR, termasuk juga pembiaran oleh mereka orang-orang baik yang ada di DPR, selama itulah DPR akan menjadi  SEBURUK-BURUK TEMPAT DIMUKA BUMI.

Sebaik-baik tempat di muka bumi dan yang paling dicinta Allah adalah Masjid. Seburuk-buruknya ialah Pasar. Tapi ada rumusnya: “Jika Pasar mengalahkan Masjid, maka Masjid MATI. Jika Masjid mengalahkan Pasar, maka Pasar HIDUP,” kata Abu Bakar Ash Shiddiq. maka menyesuaikannya dengan tuduhan saya pada DPR ini,  jika masjid hidup DPR lebih hidup lagi, namun jika DPR hidup, masjid belum tentu ikut hidup, atau jika, jika benar ke mesjidnya orang-orang DPR maka DPR akan menjadi tempat terbaik pula, namun bila sebaliknya, salah ke mesjidnya orang-orang DPR itu, maka adalah kejadiannya DPR lebih buruk dari SEBURUK-BURUK TEMPAT YANG ADA DIMUKA BUMI.


#Jancuk

Barusan aku baca halaman web Sujiwo Tejo tentang sekalian Jancuk. Sebagai seorang Minang, Aku terkejut karena disana Si Mbah ini ada mempersamakan Jancuk itu dengan Pantek disamping ia juga mengumpamakannya dengan Pukimak atau lainnya. Benarkah begitu ?. Daripada aku bingung dan penasaran sendirian, kutulislah postingku yang berjudul Jancuk ini.

Baa Sanak ? Lah baco penjelasan Jancuk dari Don Tejo Corleoncuk tu ? Baa pandapek sanak, yo lai bisa disamoan Jancuk tu jo Pantek ??


*Maaf sabaleh kapalo kalau ado yang ndak berkenaan*
 #SIB SalamIndonesiaBijaksana


Selanjutnya yang ada dibawah ini adalah beberapa petikan tentang Jancuk.
Ken Adib bilang : 
#jancuk itu bila teriak2 "revolusi sampai mati", padahal cuma "revolusi sampai skripsi" !!!
#jancuk itu bila perokok dianggap najis daripada koruptor
#jancuk itu bila galaunya cuma sama pacar dan pacar. tak pernah galau dengan negara dan bangsa!!!

Arif Gumantia bilang :
Ketika pantat menjadi begitu berharga, dibuatkanlah kursi seharga 24 juta. #Jancuk


DPR, Wakil Rakyat ?


Tulisan dibawah ini adalah repost
Ahok.Org (02/03) – Anggota DPR dari Partai Golkar Basuki Tjahaja Purnama menelanjangi rekannya di parlemen yang melakukan korupsi. Melalui laporan kinerja bertajuk Satu Tahun Ber-DPR, Ahok –begitu dia akrab disapa– mengungkap banyak fakta menarik tentang tingkah polah para wakil rakyat di Senayan.
Dalam laporan itu, Ahok menceritakan pengalaman kunkernya ke Maroko pada akhir September 2010. Dia ikut sebagai anggota delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPR dan Parlemen Maroko. Kunjungan tersebut menjadi pengalaman pertamanya menggunakan paspor dinas berwarna biru.
’’Yang membuat saya gundah, rupanya dalam perjalanan itu juga ada acara ke Spanyol,’’ ungkap Ahok di Hotel Santika, Slipi, Jakarta Selatan, kemarin (28/2). Dia merasa perjalanan ke Spanyol tersebut bukan lagi bagian dari agenda kerja sama bilateral. ’’Toh, terdapat tim lain yang berangkat ke sana,’’ ujar pria kelahiran Belitung Timur, 29 Juni 1966, itu.
Turut hadir peneliti senior CSIS J. Kristiadi, Koordinator Formappi Sebastian Salang, Koordinator ICW Danang Widoyoko, serta pengamat politik dan kebijakan publik UI Andrinof Chaniago.
Tim yang terdiri atas enam anggota DPR tersebut akhirnya berangkat pada 24 September 2010. Menurut Ahok, semua acara seharusnya sudah selesai pada 27 September sore. Artinya, mereka bisa kembali ke Indonesia keesokannya. Tetapi, anggota rombongan yang lain nekat ingin ke Spanyol.
’’Dalam jadwal acara tidak ditulis ke Spanyol. Cuma sampai 29 September, dibuat seolah-olah masih di Maroko kegiatannya dan ditulis pukul 13.20 berangkat dari Casablanca (lokasi bandara internasional Maroko, Red) menuju Jakarta,’’ jelas Ahok.
Yang keterlaluan, lanjut dia, para anggota rombongan yang pelesiran ke Spanyol tersebut tetap menerima tambahan uang saku perjalanan. Di Maroko setiap anggota dihitung USD 200/hari, termasuk hotel. Untuk Spanyol, jatahnya menjadi dua kali lipat, yakni USD 400/hari.
Ahok memutuskan untuk tetap pulang ke tanah air pada 28 September. Meski di Maroko selama lima hari, dia hanya mau menerima uang saku selama empat hari. ’’Perdiem saya di Maroko, setelah dipotong ini itu adalah USD 685,’’ katanya. Bila dihitung USD 1 sama dengan Rp 9.000, USD 685 adalah sekitar Rp 6.165.000.
Sebelumnya, dia malah ditawari menerima uang saku penuh selama tujuh hari, meski tidak ikut jalan-jalan ke Spanyol. ’’Tentu saya menolak hal itu dan meminta apa yang menjadi hak saya saja,’’ ungkap mantan bupati Belitung Timur (periode 2005–2010) tersebut.
Selaku anggota komisi II, agenda kunker pertamanya adalah ke Palu, Sulawesi Tengah. Seperti biasa, seluruh anggota rombongan mendapatkan biaya sistem lumpsum yang diatur staf sekretariat. Mulai uang tiket, uang saku, uang hotel, hingga uang transportasi dihitung dengan standar tertinggi dan termahal di kota yang akan dikunjungi.

Beberapa hari menjelang keberangkatan, cerita Ahok, staf komisi memberikan alternatif antara dibelikan tiket pesawat kelas eksekutif atau ekonomi. ’’Karena berpikir semua untuk penghematan dan kesetiakawanan, saya ikut ekonomi. Ternyata saya malah diberi selisih sisa uang dari tiket untuk eksekutif yang dibelikan untuk ekonomi,’’ kata pemilik nama Tinghoa Zhong Wan Xie tersebut lantas tersenyum.
Ahok menyatakan tidak tenang karena merasa ada etika yang dilanggar. Dari sisi penghematan uang negara, dia setuju kalau perjalanan dinas anggota dewan sebaiknya menggunakan tiket pesawat ekonomi. Tetapi, ketika uang yang dianggarkan tetap berstandar kelas eksekutif dan selisih uang tiketnya masih dikembalikan kepada anggota, justru tidak ada penghematan uang rakyat.
’’Justru anggota dewan yang untung karena mendapatkan penghasilan tambahan. Apakah ini dilaporkan dalam SPT (surat pemberitahuan) pajak?’’ katanya. Dalam kunjungan ke Palu itu, imbuh Ahok, bupati setempat juga ingin membayar uang penginapan. ’’Saya menolak ini dan sempat membuat suasana menjadi tidak nyaman,’’ tuturnya.
Selama setahun di DPR, Ahok mengatakan melihat banyak contoh konkret tentang permainan dalam penggunaan anggaran negara. Mulai permainan jumlah hari perjalanan dan rapat, perubahan tiket perjalanan, adanya dana taktis dalam berbagai kunjungan, hingga pemberian honorarium maupun pembiayaan pembahasan RUU yang sering tidak transparan.
Ditambah lagi, lanjut dia, pengambilan ’’kelebihan’’ uang reses, peningkatan uang kunjungan secara diam-diam, dan tidak jelasnya potongan pajak penghasilan DPR. ’’Memang ini tidak bermasalah dari sisi legalitas. Tetapi, secara etika sangat patut dipertanyakan karena penghambur-hamburan uang rakyat,’’ katanya.
Menurut Ahok, kalau anggota dewan saja sudah terbiasa menilap uang kecil, fungsi pengawasan terhadap kementerian pasti kedodoran. ’’Otomatis prinsipnya kamu ambil punya kamu, saya ambil punya saya,’’ sindir Ahok. Selain mengingatkan langsung, Ahok sudah melaporkan hal itu ke Badan Kehormatan (BK) DPR. Namun, belum ada tindak lanjutnya sampai sekarang.
Ahok menambahkan, praktik ’’bagi-bagi uang’’ juga lazim terjadi di komisi. Tetapi, Ahok menyatakan belum pernah menemukannya secara langsung. ’’Mungkin karena tahu saya begini, saya nggak pernah ditawari. Perjalanan saja nggak mau nilep, apalagi bagi-bagi begitu,’’ katanya lantas terkekeh. [Radar Jogja]

Pemberantasan Yang Terberantas

Ini sekedar cerita, tapi bukan sekedar untuk dibaca.! Sejak saya mengambil gambar ini, kira-kira tanggal 18 agustus 2010 ketika itu. Saya entah darimana tepatnya ketika itu, Saya melintas di depan Gedung KPK, lalu saya sempatkan mengambil beberapa gambar dengan cara saya sendiri. Entah bagaimana pula,  tiba-tiba saya terbayang untuk menuliskan kalimat-kalimat berikut untuk menjelaskan gambar itu.

A.Komisi terlihat jelas (saya khawatir lembaga ini memang paling banyak terima komisi alias jatah). Pemberantasan Lumayan jelas (saya jadi bertanya, dapat komisi buat berantas apa ya ?) Korupsi tampak jauh, Tidak jelas tentunya (saya jadi ragu, benarkah lembaga ini memberantas korupsi ?) Bukan hanya karena lemah atau kuatnya lembaga ini, tapi juga karena sebegitu samarnya dan disamarkannya korupsi di negeri ini.



B. Sama seperti gambar pertama tadi, di gambar ini, semakin parah kejadiannya. korupsinya benar-benar tak kelihatan. yang kelihatan hanya Komisi Pemberantasan, jadi kalau begitu ini mau berantas apa, berantas nyamuk, kecoa, tikus ? kalau cuma untuk basmi yang begituan, buat apa sampai se-super body begitu lembaga ini ? 


 
C. Akhirnya, Yang tersisa jelas Hanyalah korupsi. Semoga anda semua tahu apa maksudnya ini. Ya, Korupsi saja yang akan bersimaharajalela (ikutan menggunakan bahasa yang dipakai Tan Malaka) di negeri ini. kalau dibiarkan begini terus, hancurlah penjepit oleh yang dijepitnya (Ibaraik maapik basi jo bilah / ibarat menjepit besi dengan bambu), karena itu duhai sekalian Rakyat Indonesia yang saya muliakan, memberantas korupsi itu tak dapat kita andalkan KPK saja. Kita harus turut serta, aktif sebisa mungkin, apalagi masih muda begini.

Terakhir, Saya ingin sampaikan bahwa kebetulan dihari Abraham Samad sedang di fit and proper test saya ada disana, di gedung DPR di ruang Komisi III. Melihat orang yang satu ini, saya ada menaruh kepercayaan yang cukup besar kepadanya. semoga dia tak seperti kisah gambar diatas.

Demikianlah cerita yang berbelit-belit ini saya tuliskan.  silahkan tinggalkan komentar anda. terimakasih Saudara. #SIB SalamIndonesiaBijaksana.

Sebuah Laporan Tentang Sang Pejuang

Pejuang. Pejuang itu dimata saya adalah kesempurnaan. kesempurnaan pikiran dan tindakan. pejuang adalah dia yang berpikir dalam bertindak dan juga dia yang bertindak dengan berpikir. sempurna sekali tampaknya gambaran pejuang dalam beberapa baris itu, ya sempurna memang, karena itu adalah idealnya. sepejuang-pejuangnya seseorang tetaplah dia orang alias manusia yang tak luput dari dosa apalagi salah-salah kecil yang alpa kita memperhatikannya.

Tan Malaka, pada dialah salah satu sosok yang bagi saya dapat menggambarkan seorang manusia yang cukup mampu mendekati gambaran ideal seorang pejuang itu. tanpa mengenal karyanya yang lain, cukuplah tunduk untuk mengakui dia adalah seorang pemikir dengan mesra bersama karyanya yang berjudul madilog itu. begitu pula, dimasa-masa sulit selama 20 tahun dia berkeliling sebagai orang terbuang ke sarang komunis melalui sekian banyak negara dalam pulang dan perginya ke negeri tercinta ini yang begitu antinya terhadap komunis, dan dia selamat. lalu, bagaimana akan menyanggah kalau dia adalah seorang pejuang dengan selamatnya dia sampai kembali ditanah air dan berusaha menumpahkan segala pikirannya demi bangsa ini.

cerita lainnya, dia bahkan dalam hayatnya yang telah tiada semakin diakui tentang ke-pejuang-annya itu. soekarno mengharapkannya, namun tak sempat. soeharto gamang padanya, di bredel dan dihapuslah dia dari buku-buku sejarah. seiring dengan itu, maka ikut hilang pulalah siapa dia sebenarnya, DNA-nya diragukan. Namun, di akhir-akhir ini, patut kita bersyukur bahwa DNA Tan Malaka mendekati kebenaran.

Demikianlah cerita yang berbelit-belit ini saya tuliskan setelah saya membaca tulisan ini dan ini. Bagi yang sudah Sempat baca, silahkan tinggalkan komentar anda. terimakasih Saudara. #SIB SalamIndonesiaBijaksana.